Ikutan Konversi

Ribut-ribut soal konversi minyak tanah ke gas LPG belakangan ini juga mengilhami orang-orang kreatif untuk turut melakukan gerakan serupa. Bedanya, konversi yang dilakukan seperti gambar ini tidak menimbulkan antrean panjang..... dan lama.....
Hari-hari belakangan ini sejumlah warga Surabaya mengeluhkan pasokan minyak tanah yang minim sehingga menimbulkan kelangkaan stok. Antrean panjang warga yang membeli minyak tanah menjadi pemandangan aneh. Di kota sekelas Surabaya minyak masih langka.
Penyebabnya karena juragan minyak tanah yaitu Cak Perta lan Ning Mina sengaja mengecilkan kran pasokan minyak karena sesuai dengan "petunjuk" pusat yakni program konversi mitan ke gas LPG.
Sementara itu, ide "kreatif" juga muncul dari tentara kita. Saat melangsungkan HUT-nya di lapangan Makodam V Brawijaya, salah satu peralatan perang milik TNI AD juga ikut-ikutan di konversi, disulap jadi tempat memajang jajanan hasil bumi. Ada pisang, telo, pohong, gembili dan lainnya.
Gimana, hebatkan???
Apalah Arti Sebuah Nama (Jalan)

Cak William Shakespeare pernah berujar "Apalah arti sebuah nama?. Mungkin saja, kalimat ini yang 'mengilhami' dedaunan untuk menutupi nama sebuah jalan. Atau mungkin saja, si papan penunjuk nama jalan itu malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik rimbunnya daun pepohonan? Tapi...prosoko, yo gak mungkinlah, kemungkinan loro sing tak sebutno ndhek dhuwur kuwi. Lha terus sopo sing salah? (Yo sing nang penjara)
Kalau melihat pemandangan seperti ini, bisa menjadi bahan untuk mainan tebak-tebakan. Ayo, apa nama jalan itu?
Sama saja dengan yang di atas, ayo tebak apa nama jalan ini?
Papan nama jalan yang di atas itu memang berdiri di jalan yang kurang "terkenal" atau bukan jalan besar. Tapi yo kenemenan cak, kok yo gak diurus. Misalnya saja jalan Melati yang berada di kawasan Kusuma Wijaya, jalan KH Misbakh dan jalan Sam Ratulangi yang berdekatan dengan jalan Kartini.

